Sejarah

SEJARAH

Kebutuhan listrik yang semakin meningkat, seiring dengan bertambahnya penduduk Indonesia mendorong pemerintah membuat program penambahan kapasitas listrik hingga 35.000 MW. Program tersebut diharapkan mampu memenuhi pasokan listrik untuk kebutuhan sehari-hari dan industri.

Kebutuhan listrik yang cukup tinggi di Indonesia ini menjadi peluang bagi PJBI. Apalagi masih ada peluang bisnis ketenagalistrikan berkapasitas 25.000 MW yang dikerjakan oleh IPP. Untuk itu, PJBI didirikan pada 18 Desember 2015 sebagai anak perusahaan PJB. Diharapkan perusahaan ini mampu menangkap setiap kesempatan memajukan usaha ketenagalistrikan untuk kepentingan Negara.

Selama ini, ruang gerak PJB Group, sebagai salah satu anak perusahaan Perusahaan Listrik Negara (PLN), terbatas ketika mencari dana dari pihak luar karena terikat Covenant Global Bond PLN. Akibatnya, PJB tidak dapat berperan mayoritas terutama terkait pinjaman dan penjaminan porsi ekuitas. Kesempatan PJB Group tumbuh di tengah pasar ketenagalistrikan Indonesia yang semakin besar menjadi tidak fleksibel. Melalui PJBI yang ditetapkan sebagai Unrestricted Subsidiary pada 5 Agustus 2016, PJB Group mampu memenuhi Covenant Global Bond sekaligus turut berperan dalam perkembangan pasar ketenagalistrikan Nasional.

Proyek penugasan pengembangan IPP pertama PJBI adalah PLTU Jawa 7 (2×1000 MW) yang fase konstruksinya telah berjalan sejak 2016. PJBI ditunjuk menjadi project sponsor dan pemegang 30 persen saham pada joint venture company IPP PLTU Jawa 7 yaitu PT Shenhua Guohua Pembangkitan Jawa Bali (SGPJB) bersama perusahaan BUMN asal China yaitu China Shenhua yang menjadi pemegang 70 persen saham. Selain menjadi pemegang saham di SGPJB, PJBI juga menjadi pemegang 30 persen saham di joint venture company pengelola Operation and Maintenance (O&M) PLTU Jawa 7 yaitu PT Guohua Taidian Pembangkitan Jawa Bali (GHPJB) bersama Taishan Power Generation Company yang menjadi pemegang 70 persen saham.

PLTU Jawa 7 merupakan proyek pengembangan IPP yang termasuk dalam program 35.000 MW. Proyek ini bernilai strategis sebab menggunakan teknologi Ultra Super Critical pertama di Indonesia.